Minggu, 11 September 2011

KISAH BENAR..SETIA SEORANG LELAKI..

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30am seorang lelaki berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan peralatan dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat dirawat setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, lelaki tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melihat ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang sibuk aku cuba untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang balutan baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sukar, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..

Sambil merawat lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke satu tempat untuk makan tengahari bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan

bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata,? Dan pakcik masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri pakcik tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, ?

Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?

Aku terus menahan air mata sampai pakcik itu pergi, aku kagum. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku?

Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.

Hidup ini bukanlah hanya menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.?

Janganlah menjadi begitu masin..sehingga orang meludahmu..
Dan janganlah pula berlaku terlampau manis, sehingga mereka menelan dirimu begitu saja...

5 Alasan Mengapa Cinta Ditolak

Sobat pria, apakah Anda sudah pernah ditolak oleh wanita? Anda mungkin bertanya-tanya, setelah melakukan pedekate yang begitu intensif terhadap wanita itu, tapi saat Anda menyatakan cinta Anda pada dia, Anda malah ditolak. “Saya kurang apaaa?? Mengapa cinta saya ditolak??” begitulah Anda berseloroh sambil hati Anda teriris-iris sakit.
Pedekate dan penolakan adalah hal yang sudah satu paket. Hal itu tergantung dengan bagaiman cara Anda pedekate pada si dia. Dan masalah diterima atau ditolak nya cinta Anda oleh wanita yang Anda sukai itu bergantung pada Anda.
Hitman System kali ini akan membeberkan 5 rahasia alasan mengapa cinta Anda ditolak olehnya. Jika Anda mendengar alasan langsung dari wanita yang menolak Anda, seperti misalkan “aku gak bisa terima kamu.. kamu terlalu baik buat aku..” maka itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Lalu apakah alasan sebenarnya cinta Anda ditolak?
  1. Anda terlalu baik untuknya. Wanita menyukai dan menginginkan sosok pria yang baik, tapi pada kenyataannya, mereka lebih tertarik pada pria yang menantang, agresif dan penuh dengan petualangan atau kita sebut dengan istilah bad guy. Anda takut dicap jelek oleh wanita yang Anda dekati, sehingga Anda bermain terlalu aman dengan menjadi pria yang terlalu baik. Itulah mengapa penolakan sering terjadi pada pria yang terlalu baik termasuk pada Anda. Jika dipersingkat, wanita yang Anda dekati tidak turn-on pada Anda.
  2. Alasan mengapa Anda ditolak oleh wanita yang Anda dekati adalah salah satunya karena Anda terlalu banyak mengumbar diri Anda. Mengumbar diri Anda dan mengumbar perhatian pada wanita adalah langkah awal menuju penolakan. Itulah mengapa cinta Anda ditolak dan Anda perlu belajar tentang cara mengumbar diri pada wanita.
  3. Anda terlalu terlihat mengejar si dia. Wanita memang suka dikejar. Tapi pertanyaannya adalah, berapa pria yang mengejar si dia? Jika banyak yang mengejar si dia, maka Anda harus bersaing. Mengejar wanita adalah salah satu tindakan yang menyebabkan cinta Anda ditolak oleh dia. Sebaiknya Anda perlu belajar cara mengejar wanita.
  4. Memposisikan diri Anda sebagai teman dekat adalah cara terbaik agar cinta Anda ditolak oleh si dia. Kenapa Anda harus membiasakan diri bermain menjadi “kakak-adik” dengan wanita yang Anda dekati? Jelas saja cinta Anda ditolak. Ingin tahu kenapa?
  5. Alsan terakhir mengapa cinta Anda ditolak oleh si dia adalah karena Anda terlalu berharap pada si dia. Rasa ngarep seperti inimenyebabkan Anda terlihat bodoh dan takut kehilangan wanita yang Anda dekati. Ini adalah alasan yang sering terjadi tentang mengapa cinta Anda ditolak oleh si dia. Anda perlu menggali lebih dalam tentang ngarep.
Sobat, itulah 5 alasan mengapa cinta Anda ditolak. Sekarang yang perlu Anda lakukan adalah memperbaiki diri Anda supaya tidak ditolak lagi.

Rabu, 07 September 2011

Makna Cinta Dan Keseetiaan

Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif.
Jutaan bahkan mungkin miliaran karya seni dari abad ke abad menyenandungkan cinta dan kesetiaan. Cinta dan kesetiaan melahirkan hidup dan kehidupan baru.
Orang gembel – kaya, butuh cinta dan kesetiaan.
Orang kasar – romantis, juga mendambakan cinta-kesetiaan
Orang jahat (menurut penilaian umum) – dan kaum agamawan pun menginginkan cinta-kesetiaan. Manusia dan alam semesta menyenandungkan harmoni cinta dan kesetiaan secara universal – bebas dari SARA.
Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih.
Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis yang lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.
Masih ada banyak wujud cinta dan kesetiaan. Sebut saja, cinta kepada tanah air, cinta diri sendiri atau narsis dan ada storge cinta pada keluarga.
Ada apa dengan cinta dan kesetiaan?
Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi.
Dunia sosial politik kekuasaan dengan para aktornya sering menyeret cinta dan kesetiaan yang suci tulus ke dunia yang sempit dangkal. Maka lahirlah kaum penjilat dan loyalis semu. Kelompok ini ada dan hidup di mana-mana – di sekitar kita hingga detik ini.
Banyak contoh di mana penguasa dan kaum loyalis suatu ideologi (parpol) yang sedang berkuasa menindas yang lemah mengabaikan makna cinta dan kesetiaan. Bahkan lebih jauh, telah membawa cinta dan kesetiaan ke dalam lahan tindak anarkhis kriminal. Penyelewengan terhadap makna cinta dan kesetiaan, akan melahirkan ketidakadilan bahkan pengkhianatan terhadap nilai inti kehidupan: welas asih yang harmonis.
Dulu di daratan Eropa, sejarah cinta mencatat Kaisar Claudius II telah membunuh energi cinta kaum muda. Para pemuda (pasangan muda) dilarang melakukan perkawinan. Sang Kaisar bertitah, kaum muda dengan energinya yang perkasa lebih tepat jadi tentara untuk kepentingan perang. Pasangan kaum muda dilarang keras melakukan perkawinan.
Seorang filsuf humanis yang juga rohaniwan, Valentine menentang kebijakan kaisar dengan menikahkan pasangan-pasangan muda yang sedang mabuk cinta. Valentine pun lalu dihukum mati karena dianggap melawan titah kaisar.
Di negeri ini banyak kelompok orang yang cepat “emosi” ngamuk bergaya barbar ketika ada kelompok lain yang berbeda, tidak sewarna, sepaham – sealiran – seideologi. Saling serang secara fisik dan saling menyakiti. Yang lebih mengerikan lagi jika membawa-bawa dan mengatasnamakan TUHAN – Sang Maha Kuasa – Pencipta – Maha Pengampun dan Sang Maha Welas Asih untuk merusak, menyakiti, dan membunuh sesama hanya karena berbeda. Memangnya, siapa manusia? (Siapa sih lu?). Di ruang yang lebih kecil, di kantor misalnya, orang yang tidak senada seirama ditekan, diadu domba, dan disingkirkan bahkan dibunuh kharakternya.
Negeri ini sejatinya bukan hanya sedang dilanda sakit kemiskinan dan kebodohan yang parah, tapi juga sedang mengidap sakit pengkhianatan cinta dan kesetiaan terhadap hidup harmonis dan welas asih.
Salam cinta dan kesetiaan

Minggu, 28 Agustus 2011

Makna Ramadhan Dan Idul Fitri

Jika kita melihat perjalanan hidup Nabi Muhammad sebagai sebuah kitab al Quran yang hidup, kita melihat bahwa apa yang dilakukan beliau itu seperti gambaran yang terdapat di dalam al Quran, yaitu segala sesuatunya penuh dengan perumpamaan. Perumpamaan ini jika kita mau dan tahu cara untuk dibimbing Allah, maka ternyata perjalanan hidup Nabi Muhammad tersebut mengandung makna yang mendalam sebagai pelajaran di balik simbol-simbol peristiwa yang merupakan perumpamaan.
Ketika Nabi Muhammad memerintahkan kita melakukan puasa di bulan Ramadhan, secara syariat kita tentu mengartikan bahwa kita wajib berpuasa di suatu bulan dalam kalender Hiriyah yang bernama bulan Ramadhan selama sebulan penuh sebagai sesuatu kewajiban. Namun ternyata, makna dari puasa atau shaum lebih dalam dari hanya sekedar berpuasa fisik sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Makna dari Ramadhan ternyata lebih dalam dari hanya sekedar suatu bulan dalam kalender Hijriyah.
Ramadhan di dalam arti bahasa berarti membakar dan dimaksudkan sebagai membakar dosa. Menjadi pertanyaan, apa dosa spesifik yang dapat terbakar di bulan Ramadhan? Bagaimana cara membakar dosa di bulan Ramadhan?
Dosa yang dibakar di bulan Ramadhan adalah dosa kemusyrikan manusia, terutama kemusyrikan dalam hal kepemilikan dan kemusyrikan dalam hal aturan. Perkenankanlah saya membahas sedikit mengenai kedua jenis dosa ini, namun untuk lebih jelasnya, harap diperhatikan kembali bahasan tentang “Meraih Cahaya Allah” di pembahasan sebelumnya dalam mailing list ini.
Pertama, Ramadhan adalah proses membakar dosa musyrik kepemilikan dimana manusia merasa bahwa segala yang Allah telah berikan (sebenarnya bukan diberikan, lebih tepatnya dititipkan) kepadanya adalah miliknya sendiri, padahal itu sebenarnya milik Allah yang dititipkan kepadanya. Merasa memiliki ini adalah ciri-ciri dosa musyrik kepemilikan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 18:32-42, Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”
Merasa memiliki sesuatu yang dititipkan Allah merupakan ciri-ciri sifat mempersekutukan Allah dalam hal kepemilikan karena Allah telah meng-klaim bahwa alam semesta dan isinya merupakan milik-Nya dan tidak boleh ada dua pemilik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 42:53, (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.
Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini kita diajarkan untuk membakar dosa musyrik kepemilikan dengan pembuktian bahwa semua ini bukan milik saya tetapi milik Allah yang dititipkan kepada saya. Pembuktian itu namanya shodaqoh yang berasal dari kata shiddiq yang berarti benar atau membenarkan.
Pembuktian bahwa kita melakukan proses Ramadhan atau pembakaran dosa musyrik kepemilikan bukanlah kepada Allah dan bukanlah lewat alat yang disebut puasa fisik, namun dengan pemberian kepada orang miskin pada bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 9:60, Sesungguhnya sedekah-sedekah itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus sedekah, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Jika kita selalu bersedekah dengan disertai kepahaman bahwa ini adalah suatu proses pembuktian atau pembenaran bahwa semua ini bukan milik saya tetapi merupakan titipan Allah dimana di dalamnya ada hak orang miskin, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:19, Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian dan Surat 70:24, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), maka pada saat itulah kita berproses Ramadhan atau membakar dosa kemusyrikan dalam hal kepemilikan.
Kedua, Ramadhan adalah proses membakar dosa musyrik aturan dimana selama ini kita hidup diatur oleh bukan hukum Allah di dalam al Kitab (al Quran), maka dalam proses Ramadhan ini kita diajak untuk Idul Fitri yaitu kembali kepada fitrah aturan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 30:30-32, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dengan tidak bermaksud menyalahkan atau menggurui, selama ini konsep umat Islam sedunia tentang Idul Fitri boleh dibilang salah kaprah. Idul Fitri selama ini diartikan sebagai kembali ke fitrah tanpa dosa bagaikan bayi yang baru lahir karena selama sebulan telah menunaikan ibadah puasa. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah ada manusia yang bebas dari dosa? Apakah bolah kita mengaku sebagai manusia yang fitrah seperti bayi baru lahir? Kalau kita merasa sebagai bayi, berarti tidak perlu taubat lagi?
Di dalam al Quran, Allah telah melarang kita untuk merasa suci atau memahami konsep Idul Fitri secara salah kaprah seperti ini. Kita tidak diperbolehkan merasa diri kita suci, sebagaimana disebutkan dalam Surat 53:32, (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Lebih lanjut, kembali kepada suci di dalam al Quran disebut sebagai zakat dan bukan fitri atau fitrah. Jadi secara bahasaquran, Idul Fitri tidak dimaknai sebagai kembali kepada suci tetapi kembali kepada fitrah. Fitrah itu sebenarnya tidak berarti suci tetapi berarti aturan.
Menurut konsep yang benar, meskipun mungkin akan berpotensi berlainan dengan kebanyakan konsep umat Islam di muka bumi ini, Idul Fitri itu selayaknya diartikan sebagai kembali kepada fitrah aturan Allah yang murni yaitu al Quran, aturan yang lurus, aturan yang tidak berubah dari sejak dahulu (ad-Dinul Qoyyimah), tidak menambah-nambah, tidak mengurangi, lurus dan kaffah. Itulah makna Idul Fitri yang sesungguhnya meskipun telah disebutkan dalam Surat Ar Ruum diatas, kebanyakan manusia tidak memahami makna Idul Fitri yang sesungguhnya.
Kebanyakan manusia memahami makna Idul Fitri sebagai kembali suci seperti bayi sehingga kita semua merasa bersih dari dosa pada saat Hari Raya Idul Fitri padahal merasa suci semacam ini dilarang oleh Allah dan konsepsi ini telah membuat kita setiap tahun melewati Idul Fitri namun semakin jauh dari fitrah Allah yaitu al Quran.
Manusia yang memaknai Idul Fitri sebagai kembali ke aturan Allah yang murni adalah manusia yang melewati proses Ramadhan dengan sebenarnya karena dia akan mengendalikan hawa nafsunya dengan aturan Allah dalam al Quran sehingga dia memiliki nafsul muthmainah atau nafsu yang terkendali. Inilah makna puasa yang sebenarnya. Inilah makna Ramadhan yaitu membakar dosa kemusyrikan secara aturan.
Manusia yang memahami makna Ramadhan yaitu membakar dosa kemusyrikan, maka dia akan menyadari bahwa setiap hari dalam hidupnya sebenarnya adalah proses Ramadhan tanpa henti yang tidak dihentikan oleh hari lebaran, namun dihentikan oleh dipertemukannya ajal.
Manusia yang berproses Ramadhan dengan mengikis dosa kemusyrikan secara kepemilikan dengan selalu bersedekah dan dosa kemusyrikan secara aturan dengan ber-Idul Fitri atau kembali ke al Quran, maka dialah yang mendapatkan karunia atau fadlul Allah dalam bentuk petunjuk dan ampunan yang diawali dengan proses Lailatul Qadar atau Nuzulul Quran.
Insya Allah kita akan membahas lanjutan topik Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran dalam bahasan selanjutnya.

Jumat, 15 Juli 2011

Keistimewaan - Keistimewaan Manusia

1. Makhluk paling mulia dan utama
Di antara makhluk ciptaan Allah SWT, manusia mendapat kedudukan tinggi. Ia merupakan makhluk yang paling mulia dan utama karena memilki unsur dan daya materi, yang memiliki jiwa dengan ciri-ciri berfikir, berakal.
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna” (Q.S:17:70)
2. Makhluk yang paling disuka
“Allah-lah yang menundukkan laut untukmu agar kapal-kapal dapat berlayar di atasnya dengan perintah-Nya, dan agar kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur “ (Q.S:45;12)
3. Makhluk yang paling cerdas
Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain, karena pada manusia terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, yang kadang-kadang disebut dengan jiwa, ruh, soul mind , dan sebagainya.
“Dan diajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (Q.S 2: 31)
“Mereka menjawab, “ Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana” (Q.S 2: 32)
Berkaitan dengan keutamaan manusia sebagai makhluk yang paling cerdas, dikarenakan Allah SWT mengkaruniakan kita akal/otak. Otak adalah organ intro untuk berpikir, belajar dan berinteraksi dengan dunia melalui persepsi dan tindakan.
Baru- baru ini para ilmuwan telah mampu mempelajari bagaimana otak membentuk jaringan saraf. Dimulai pada rahim dan seluruh kehidupan ini jaringan yang luas terus berkembang, beradaptasi, dan belajar, bahkan di usia tua, masih tumbuh neuron baru, meskipun dalam jumlah kecil. Stimulasi mental meningkatkan fungsi otak dan benar-benar melindungi terhadap penurunan kognitif, seperti halnya latihan fisik. Penurunan mental yang berat biasanya disebabkan oleh penyakit, sedangkan sebagian besar berkaitan dengan usia kerugian dalam memori atau keterampilan motorik semata-mata disebabkan aktivitas dan kurangnya latihan dan stimulasi mental. Dengan kata lain, gunakan atau hilang.
4. Makhluk yang paling baik
Selain sebagai makhluk yang paling sempurna manusia juga dijadikan Allah SWT sebgai makhluk yang memiliki keluhuran dan kemuliaan, lebih baik dari malaikat, lebih sempurna (kejadian fisiknya maupun rohaniahnya).
“Sungguh Kami telah mencipakan manusia, dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Q.S:95;4)
5. Khalifah
Setiap manusia menurut pandangan Islam adalah pemimpin, sesuai dengan tingkatannya masing-masing. Setiap pemimpin bertanggungjawab terhadap apa yang dipimpinnya, baik lahir maupun batin, di dunia maupun di akhirat.
Mengapa manusia ditunjuk sebagai khalifah di muka bumi? sebab manusia memiliki akal dan kalbu. Sebagai makhluk yang paling sempurna, manusia akan dimintai pertanggunjawaban terhadap amanah yang diberikan padanya untuk mengelola alam semesta bagi kesejahteraan semua makhluk.
“Dan Dia-lah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat (derajat) sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas (karunia) yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang” (Q.S: 6;165).

Kamis, 07 Juli 2011

Arti Dari Sebuah Kesabaran

Rasulullah bersabda :”Barangsiapa yang mencintai karena Allah SWT, membenci karena Allah SWT, memberi karena Allah SWT dan melarang karena Allah SWT maka ia telah mencapai kesempurnaan Iman”.
Allah SWT menganugerahi manusia berbagai nafsu; ada nafsu makan dan minum, nafsu syahwat, nafsu mencapai keberhasilan, nafsu mencari tahu dan mencari ilmu, dan nafsu-nafsu lain. Nafsu atau juga kemauan dan kebutuhan ini dapat bersifat kebaikan namun sebaliknya juga bisa bersifat keburukan. Kebutuhan ini bila karena suatu hal tidak terpenuhi atau terhambat akan mengakibatkan timbulnya suatu reaksi emosi alamiah yang bersifat negatif. Emosi negatif ini bermacam- macam, ada emosi marah, kecewa, takut, ragu, benci dan juga cemas. Namun emosi negatif ini sesungguhnya diperlukan agar seseorang terdorong untuk melawan dan berjuang mengatasi hambatan yang merintangi terpenuhinya kebutuhan / keinginan tersebut. Tingkat emosi negatif seseorang dapat diukur berdasarkan tingkat kebutuhan yang terhambat dan tujuannya dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Jika emosi negatif itu terjadi pada saat adanya hambatan yang menghalangi tercapainya suatu tujuan utama kehidupan maka reaksi tersebut adalah reaksi yang mulia bahkan merupakan suatu keharusan.
Pada suatu pertempuran, Ali bin Abi Thalib, sepupu Rasulullah SAW menjatuhkan lawannya. Kemudian ia meletakkan kakinya di atas dada lawannya lalu menempelkan pedangnya ke leher lawan tersebut. Tetapi ia tidak segera membunuh orang itu.
“Mengapa kamu tidak membunuh aku?” Orang itu berteriak dengan marah.
“Aku adalah musuhmu. Mengapa kamu hanya berdiri saja?“
Lalu ia meludahi muka Ali. Mulanya Ali menjadi marah, tetapi kemudian dia mengangkat kakinya dari dada orang itu dan menarik pedangnya.
“Aku bukan musuhmu”. Ali menjawab. “Musuh yang sebenarnya adalah sifat-sifat buruk yang ada dalam diri kita. Engkau adalah saudaraku, tetapi engkau meludahi mukaku. Ketika engkau meludahi aku, aku menjadi marah dan keangkuhan datang kepadaku. Jika aku membunuhmu dalam keadaan seperti itu, maka aku akan menjadi seorang yang berdosa, seorang pembunuh. Aku akan menjadi seperti semua orang yang kulawan. Perbuatan buruk itu akan terekam atas namaku. Itulah sebabnya aku tidak membunuhmu.”
“Kalau begitu tidak ada pertempuran antara kau dan aku? ” orang itu bertanya.
“Tidak. Pertempuran adalah antara kearifan dan kesombongan. Antara kebenaran dan kepalsuan“.
Maka dengan segera orang itupun tersungkur di kaki Ali dan kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat. Subhanallah…

Rasulullah Muhammad saw adalah seorang yang mudah berkomunikasi dengan siapapun, senantiasa berlaku sopan, lemah-lembut, sabar dan tidak pernah marah walau disakiti. Rasulullah menganjurkan kepada para sahabat untuk menahan diri dari rasa marah, agar bersabar dan saling memaafkan. Seseorang yang dapat menguasai rasa marah akan menemukan nilai kehidupan tertinggi. Nilai kehidupan ini sepadan dengan “ jihad spiritual ”. Maka siapapun yang berhasil dalam jihad ini maka ia akan mampu menguasai diri dari nafsu dan segala godaan dunia yang mengepungnya. Bila pada amalan-amalan lain Allah SWT menjanjikan pahala hingga 700 kali lipat maka tidak demikian dengan sabar. Allah SWT menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang-orang yang mampu menahan kesabaran.
“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu”. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS.Az-Zumar(39):10).
Namun wajah beliau akan berubah merah padam bila melihat atau mendengar kemungkaran atau hak-hak Allah diinjak-injak dan dihina. Ali bin Abi Thalib RA berkata: “ Rasulullah tidak pernah marah untuk hal duniawi. Beliau marah karena kebenaran. Tidak seorangpun yang mengetahui kemarahannya. Kemarahannya terhadap sesuatu pasti mendatangkan kemenangan baginya.”.
Abu Dzaarr RA meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bersabda :” Jika salah seorang diantara kalian marah dan ia dalam posisi berdiri, maka hendaknya ia segera duduk, maka kemarahannya akan hilang. Namun jika kemarahan itu tidak reda, maka hendaknya ia berbaring”.
Rasulullah melarang orang dalam kondisi seperti itu untuk memutuskan suatu perkara ( hukum). Dari Abu Bakar RA, ia mengatakan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah bersabda : “Janganlah seseorang diantara kalian menentukan suatu hukum pada kedua pihak yang sedang berselisih dalam keadaan marah”.
Rasulullah juga menganjurkan para sahabat agar berwudhu’ untuk mengendalikan emosi kemarahan. Diriwayatkan dari Urwah bin Muhammad as-Sa’di RA, Rasulullah bersabda : “ Marah itu berasal dari setan, setan itu diciptakan dari api. Adapun api dapat dipadamkan dengan air, maka jika seseorang diantara kalian marah, hendaknya segera berwudhu’.” Hadis ini menguatkan kebenaran ilmu kedokteran yang menyatakan bahwa air dingin dapat meredakan tekanan darah karena emosi, sebagaimana air dapat meredakan ketegangan otot dan syaraf. Oleh karena itu, mandi dapat dijadikan penawar untuk mengobati penyakit kejiwaan.
Disamping itu, Rasulullah juga terbiasa menganjurkan para sahabat yang sedang dikuasai rasa amarah untuk mengalihkan perhatian pada aktifitas lain yang memungkinkan seseorang lupa akan rasa amarahnya ataupun merasa lelah sehingga ia tidak lagi memiliki tenaga untuk melampiaskan kemarahannya. Namun Rasulullah juga bersabda, seorang yang mengaku dirinya mukmin, tidak cukup dikatakan mukmin sejati bila ia tidak dapat merasakan beban penderitaan saudaranya sesama Muslim.
“ Kamu akan melihat kepada orang-orang Mukmin itu dalam hal kasih-sayang diantara mereka, dalam kecintaan dan belas kasihan diantara mereka adalah seperti satu tubuh. Jika satu anggota tubuh itu merasa sakit maka akan menjalarlah kesakitan itu pada anggota tubuh yang lain dengan menyebabkan tidak dapat tidur dan merasakan demam.”  (HR Bukhari).
 Rasulullah saw bersabda : 
"Tidak halal bagi seorang muslim memutuskan hubungan dengan saudaranya lebih dari 
tiga hari, keduanya bertemu tidak saling menyapa, sebaik-baik di antara kedua nya 
adalah yang memulai salam." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
”Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka ruku` dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”.(QS. Al-Fath (48): 29).
Begitu banyak peristiwa buruk yang menimpa kaum Muslimin, tersentuhkan hati ini?Adakah perasaan senasib sepenanggungan dalam hati ini? Dapatkah kita ikut merasakan penderitaan saudara-saudara kita yang tertindas di tanah airnya sendiri di Palestina? Bagaimana pula perasaan ini ketika sejumlah orang Barat melecehkan Rasulullah dengan kartun-kartunnya itu ? Dapatkah pula kita merasakan bagaimana sakit hatinya Rasulullah dan para sahabat masa lalu yang begitu gigih memperjuangkan tegaknya agama Allah sehingga akhirnya detik ini kita dapat merasakan nikmat serta indahnya Islam namun ternyata dengan santainya seorang Gulam Mirza Ahmad, pendiri ajaran Ahmadiyah itu merusak dan mengacak-acak ajaran ini? Cukupkah kita hanya mengatakan : ” Bersabarlah ..”. Sudah betulkah ini sikap sabar yang dikehendaki Allah dan Rasul-Nya??
” Barangsiapa diantaramu yang melihat kejelekan maka rubahlah dengan tangannya. Maka jika tidak sanggup maka rubahlah dengan perkataanya. Dan jika tidak sanggup rubahlah dengan hatinya, dan itulah yang paling lemah imannya.” (HR Bukhari – Muslim).

Senin, 04 Juli 2011

Arti Sebuah Janji

janji itu tampak seperti satu hal yang terucap dan terdengar, serta tertanam dalam hati, di dalam jiwa, aku telah mendengar dan janji itu tertanam di hati, bahkan tumbuh menjadi sebuah ikatan dan komitmen, janji itu terdengar nyata dalam mata ini, dan terlihat nyata dalam telinga ini, janji adalah janji, tidak mengenal ikatan, atau keputusan, karena janji tidak bergantung pada apapun, karena janji, semua orang berusaha, untuk menepatinya, menyelesaikannya, dan melupakannya.

jika kau seorang manusia yang benar mempunyai hati dan jiwa. fikirkanlah setiap kata yang terucap sebelum itu menjadi janji bagi dirimu atau orang lain, tapi memang dengan jelas. YA. dengan jelas, jika kau tidak menganggap dirimu sendiri adalah manusia. Tak perlu menunggu. akan ada saat kau menyakiti orang lain. karena kau tidak mau menepati janji itu. bahkan melupakannya. jika memang itu kau. kau telah melukai aku.