Rabu, 05 Oktober 2011

ALLAH PUNYA RENCANA YANG LEBIH INDAH UNTUKMU

Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaykum Wr. Wb.
“Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”.
Bagi seorang manusia, keberhasilan adalah suatu kondisi yang selalu ingin dicapai. Tidak ada satupun manusia yang ingin terpuruk dalam kegagalan terus-menerus. Bagi mereka yang mau dan mampu untuk meraihnya, keberhasilan itu akan dapat diraih atas izin Allah SWT.
Seorang mahasiswa pasti mengharapkan sebuah prestasi akademik yang baik. Seorang pengusaha pasti selalu mengharapkan mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Seorang pilot pasti mengharapkan agar dapat take off dan landing dengan selamat. Seorang penulis buku pasti mengharapkan agar bukunya dapat diminati oleh banyak orang. Begitupun dengan kita, kita pasti mengharapkan keberhasilan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan.
Sebuah keberhasilan merupakan hasil dari suatu usaha yang kita lakukan. Orang yang meraih keberhasilan dalam suatu aktivitas akan disebut sebagai orang yang hebat karena telah berhasil meraih apa yang ia inginkan, sebaliknya, orang yang gagal meraih keberhasilan itu, maka ia akan dikatakan sebagai orang yang gagal. Hal inilah yang terbentuk dalam pola pikir sebagian orang.
Satu hal yang perlu kita ingat, tidak selamanya kegagalan itu menandakan ketidakmampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Sebab kegagalan itu adalah proses atau sebuah jalan panjang menuju titik kejayaan. Kita mungkin sering mendengar kata-kata mutiara Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Ternyata hal ini memang terbukti. Seorang Thomas Alfa Edisson mengalami ratusan kegagalan sebelum akhirnya mampu menemukan lampu. Seorang Bill Gates harus rela dikeluarkan dari kampusnya sebelum akhirnya ia membangun kerajaan IT dunia, Microsoft.
Pada hakikatnya, manusia pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, hanya saja mereka yang mampu bangkit dari kegagalan itu, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Islam mengajarkan ummatnya bagaimana meraih sebuah keberhasilan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Perlu kita pahami bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan kuasa dari Allah semata. Artinya, segala sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah milik Dia yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Sebagai seorang pemilik, Allah berhak berbuat apa saja terhadap ciptaanNya.
Keberhasilan hanya dapat diraih melalui dua cara, yaitu ikhtiar dan tawakkal. Segala upaya dan kerja keras kita dalam mewujudkan tujuan dan mimpi yang ingin kita raih merupakan ikhtiar. Namun bagaimanapun juga, manusia tetap saja seorang makhluk yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk itulah, selain melakukan ikhtiar, kita harus tawakkal kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan do’a agar setiap ikhtiar yang kita lakukan mendapat berkah dan dimudahkan oleh Allah.
Banyak orang yang telah bekerja keras siang dan malam, bahkan sampai menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, bahkan hartanya hanya untuk meraih impiannya, pada akhirnya harus mengalami kegagalan yang pahit. Inilah akibatnya jika kita melupakan Allah dalam setiap ikhtiar/ usaha kita. Kita terkadang merasa pede dengan kemampuan kita sendiri, bahkan sampai menganggap bahwa keberhasilan yang selama ini diraih adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dia lupa bahwa yang memberikan segala kenikmatan itu adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kaya.
Ikhtiar dan tawakkal hanyalah sebuah washilah (sarana) kita untuk mencapai tujuan kita. Segala sesuatunya hanya berhak ditentukan oleh Allah saja. Artinya, tujuan atau mimpi yang ingin kita capai belum tentu akan kita raih, sekalipun telah melakukan ikhtiar dan tawakkal yang banyak. Kenapa demikian? Apakah Allah murka pada kita?
Ternyata Allah sangat sayang kepada kita. Allah itu Maha Mengetahui segalanya. Termasuk segala sesuatu yang kita butuhkan, Allah lebih tahu daripada kita sendiri. Karena, segala sesuatu yang kita inginkan, segala sesuatu yang menurut kita baik, ternyata belum tentu baik menurut Allah. Misalnya, si Fulan ingin hidup kaya dan tentram. Dia setiap hari berikhtiar dan bertawakkal agar Allah memberikannya kekayaan kepadanya. Namun pada akhirnya dia tetap saja hidup miskin. Bukan berarti Allah murka kepadanya, lantas tidak memberikan kekayaan pada si Fulan. Tapi Allah tahu, jika ia menjadi orang kaya yang bergelimangan harta, dia akan menjadi kufur dan jauh dari Allah. Oleh karena itulah, Allah tidak mengubah nasibnya agar ia lebih dekat lagi kepada Allah.
Ketika usaha dan do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, itu berarti Allah mempunya rencana lain yang jauh lebih indah daripada rencana yang kita buat.

Senin, 26 September 2011

Obat Hati (Dzikrullah)

Setelah berbicara tentang berbagai macam racun hati, sekarang saya akan membahas berbagai macam obatnya, yang semuanya berjumlah tiga belas perkara. Obat hati adalah perkara-perkara yang bisa menjaga hati kita tetap hidup dan sehat, berlawanan dengan racun hati yang justru membuat hati kita menjadi sakit dan bahkan mati. Dalam beberapa tulisan saya kedepan, insyaallah saya akan mengupas berbagai macam obat hati ini satu demi satu.
Obat hati yang pertama adalah dzikrullah, yakni senantiasa berdzikir dan mengingat-Nya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menggambarkan dzikir bagi manusia seperti air bagi ikan. Apakah yang akan terjadi bila seekor ikan dikeluarkan dan dipisahkan dari air? Tentu ia akan menggelepar dan akhirnya mati. Demikian pula dzikir merupakan kebutuhan yang niscaya bagi setiap manusia. Tanpa dzikir, hati manusia akan menjadi keras dan akhirnya mati.
Karena sedemikian pentingnya dzikir ini, Al-Qur’an dalam banyak ayat-ayatnya senantiasa memerintahkan kita untuk gemar berdzikir. Demikian pula Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam telah memberikan kepada kita tuntunan dzikir dalam hampir semua perbuatan dan muamalah kita, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Mau makan ada dzikirnya, demikian pula selesai makan. Masuk dan keluar kamar kecil, masuk dan keluar rumah, memakai dan melepas pakaian, berangkat dan pulang dari bepergian, serta hampir semua gerak hidup kita, telah ada tuntunan dzikirnya.
Mengenai manfaat dzikir, Imam Ibnu Qayyim menulis dalam kitabnya Al-Waabil Ash-Shayyib: ”Dzikir itu menguatkan hati dan ruh. Jika dzikir hilang dari diri seseorang maka hilanglah pula kekuatan hati orang tersebut. Diantara manfaat dzikir adalah: 1) mengusir dan menghancurkan syetan, 2) menjadikan pelakunya diridhai oleh Allah, 3) menghilangkan kegundahan dan kegelisahan, 4) mendatangkan kebahagiaan, ketenangan, ketenteraman dan kegembiraan, 5) membuat hati dan wajah pelakunya menjadi terang dan bersinar, 6) pelakunya akan dikaruniai kewibawaan dan kesumringahan, 7) pelakunya akan mendapatkan kecintaan Allah, 8) pelakunya akan senantiasa berada dalam pengawasan Allah, sebagaimana firman-Nya ”Ingatlah Aku maka Aku akan mengingatmu.” Betapa banyaknya manfaat dzikir!
Rasulullah sendiri, dalam hadits-hadits beliau, banyak menerangkan tentang berbagai manfaat dzikir yang tiada terkira. Salah satu contohnya adalah sabda beliau dalam hadits Abu Hurairah ra yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Ash-Shahih. Rasulullah bersabda,”Jika seseorang membaca ’Laa ilaha illallahu wahdahu, laa syariika lahu, lahul mulku walahul hamdu wa huwa ’ala kulli syai-in qadiir’ pada suatu hari sebanyak seratus kali, maka ia bagaikan telah memerdekakan sepuluh budak, akan dicatat untuknya seratus kebaikan, akan dihapus darinya seratus kesalahan, ia akan terbebas dari gangguan syetan pada hari itu sampai dengan sore hari, dan tidak ada yang lebih utama dari yang ia baca kecuali orang yang membaca lebih banyak darinya.”
Contoh yang lainnya adalah sabda Rasulullah dalam hadits Jabir ra yang diriwayatkan oleh Imam At-Turmudzi dan beliau katakan sebagai hadits hasan shahih. Rasulullah bersabda,”Bahkan seseorang yang membaca ’Subhanallah wa bihamdihi’ saja akan ditanamkan untuknya satu pohon kurma di Surga.” Kalau seseorang sudah punya pohon kurma di Surga insyaallah ia pun akan diberi tiket masuk Surga untuk menikmati pohonnya tersebut. Jika tidak begitu, lalu untuk siapa pohon kurmanya? Subhanallah, dzikir yang amat singkat pun ternyata memiliki keutamaan dan manfaat yang sangat besar!
Abdullah bin Mas’ud ra, salah seorang sahabat Nabi, berkata,”Aku lebih menyukai bertasbih kepada Allah dengan memuji-muji-Nya daripada berinfak beberapa dinar di jalan Allah.” Inilah pengakuan seorang Abdullah bin Mas’ud yang bahkan dikenal suka berderma dan berinfak di jalan Allah.
Hasan Al-Bashri, salah seorang tabi’in, pernah menerima keluh kesah dari seseorang. Orang itu berkata,”Aku mengeluhkan kerasnya hatiku.” Maka Hasan Al-Bashri pun berkata,”Lembutkanlah ia dengan dzikir.” Mengenai cerita ini, Maqhul berkomentar, ”Dzikrullah adalah obat, sedangkan dzikrunnas (banyak memperbincangkan dan menyebut-nyebut manusia seperti ghibah, namimah, dan sebagainya) adalah penyakit.”
Sebagai bagian akhir tulisan ini, saya ingin menyebutkan sabda Rasulullah mengenai betapa pentingnya dzikir itu. Beliau bersabda,”Perumpamaan orang yang berdzikir dan orang yang tidak berdzikir adalah seperti orang hidup dan orang mati.” (HR Bukhari dari Abu Musa Al-Asy’ari). Dalam kesempatan yang lain, seseorang bertanya kepada beliau,”Wahai Rasulullah, pintu-pintu kebaikan itu banyak. Aku tidak mampu melakukan semuanya. Karena itu sampaikanlah untukku apa saja yang engkau suka asal tidak banyak-banyak karena aku khawatir akan lupa dan tidak bisa ajeg.” Beliau menjawab.”Hendaknya lidahmu senantiasa basah dengan dzikrullah.” (HR At-Turmudzi dari Abdullah bin Busyrun).

Jumat, 23 September 2011

Cintai Apa Adanya, Tanpa Syarat dan Alasan!!!!!

Dalam hidup kita selalu dihadapkan dengan berbagai macam situasi dan kondisi. Betapa beruntungnya jika kita mampu mengambil hikmah atau makna dari setiap peristiwa, sehingga kita dapat mengambil pelajaran darinya.
Merenung, bersantai, pergi ke tempat yang tinggi, memandangi alam, ataupun mendengar musik adalah beberapa cara yang sering orang lakukan untuk mencari makna kehidupan. Begitu juga dengan saya, ketika mengikuti training ESQ Parenting di Menara 165, Jakarta, saya diperdengarkan lagunya Biley Joel yang berjudul Just The Way You Are. Lagu itu mengisahkan seseorang yang mencintai orang lain apa adanya. Dari lagu ini serta suasana training yang mendukung, saya mengambil suatu kesimpulan berikut.
Cintai apa adanya, bukan karena ada apanya
Banyak orang yang ngegombal cinta dan mengatakan “aku cinta kamu apa adanya”. Eh nyatanya, nol besar! Masih saja banyak orang yang cinta sama orang lain dengan alasan "kamu tuh gini, kamu tuh gitu" dan beribu alasan lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan.
Apakah pernah terlintas di benak kita, segala sesuatu yang ada di dunia ini tidak ada yang abadi dan suatu saat akan hilang? Bisa jadi, orang yang kita cintai karena alasan tertentu yang membuat kita cinta pada orang itu dapat hilang seketika. Misalnya jika kita mencintai seseorang karena kecantikan atau kegantengannya, tiba-tiba orang itu kecelakaan lalu mukanya cemang-cemong tidak beraturan. Gimana dong, apa kita akan tetap cinta?
Selama saya amati, kebanyakan orang mencintai itu masih menggunakan alasan. Mencintai ini dalam konteks luas, bisa orangtua, kakek, nenek, saudara, teman atau siapapun.
Ikhlas, sabar, dan syukur
Ada orang yang pernah mengatakan, "Aku tidak tahu mengapa aku tetap mencintainya, meskipun dia telah membuat hal-hal yang tidak aku senangi." Bisa jadi, orang itu telah mencintai orang yang dicintainya apa adanya, tidak pakai syarat dan alasan.
Lalu bagaimana agar kita mampu mencintai seseorang apa adanya? Kunci pertama adalah ikhlas dan tulus. Artinya kita benar-benar mencintai orang yang kita cintai tanpa syarat atau alasan. Percuma mencintai jika tidak ikhlas, maka hatinya masih ada rasa sesak. Ikhlas itu kunci untuk menjadikan hati kita seluas samudera, bukan selebar daun kelor. Dan tahukah Anda? Ilmu yang paling susah di dunia ini adalah ilmu ikhlas.
Kunci yang kedua adalah sabar. Mungkin, ada kalanya orang-orang di sekitar kita bersikap yang tidak sesuai dengan keinginan dan kemauan kita sehingga membuat kita kesal. Baik itu teman, rekan kerja, pasangan, bahkan orangtua kita. Jadi bersabarlah.
Mungkin orang yang kita cintai itu belum mengerti jalan pikiran kita atau belum mengetahui apa yang kita mau dan apa yang kita tidak suka. Positive thinking dan persepsi yang baik-baik saja, karena percuma kalau pikiran dan hati kita berprasangka buruk.
Kemudian kunci yang terakhir adalah bersyukur. Tahukah kita? Mencintai adalah karunia terbesar dari Allah. Mumpung rasa cinta dan kasih sayang belum dicabut oleh Allah dari hati kita, yuk kita bersyukur. Bersyukur karena telah mencintai orang-orang yang kita sayangi, bersyukur atas pemberian rasa cinta dan kasih sayang dari-Nya, bersyukur karena hati kita tidak mati untuk mencintai. Sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an, "Dan katakanlah, aku mencintai mu atas nama Tuhan ku, Allah Ar Rahman Ar Rahim."
Teman, rasa cinta dan kasih sayang yang hadir di dalam hati kita sesungguhnya berasal dari Allah, Yang Maha Kasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi Cinta. Maka itulah yang harus menjadi landasan, atau dasar kita mencintai orang-orang yang kita cintai. Bukan karena wajahnya, bukan karena materinya, bukan karena sifatnya, tapi karena Allah.
Seperti yang sudah saya jabarkan di atas, bisa jadi alasan yang membuat kita cinta kepada orang itu hilang. Boleh kita mencintai orang-orang yang kita cintai, tapi tetaplah menempatkan Allah sebagai cinta tertinggi kita. Sedikit menyitir perkataan Teuku Umar untuk istrinya, Cut Nyak Dien. “Istriku, kau tidak ada di hatiku, yang ada di hatiku hanyalah Allah, tapi engkau tetap di sisiku untuk selamanya.”
Teman, tak bosan saya katakan mari kita tetapkan cinta tertinggi hanya kepada Allah dan Rasul-Nya. Sungguh Dialah yang memberi rasa kasih sayang, dan cinta di dalam hati kita. Landaskan semua rasa cinta kita ketika mencintai orang lain adalah karena Allah, sungguh Dia tak pernah hilang, yang selalu abadi. Cintailah ayah, ibu, kakek, nenek, kakak, adik, saudara, teman, rekan kita karena Allah. Akan jauh lebih indah dan bermakna.

Minggu, 11 September 2011

KISAH BENAR..SETIA SEORANG LELAKI..

Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30am seorang lelaki berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Aku menyiapkan peralatan dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat dirawat setidaknya 1 jam lagi.

Sewaktu menunggu, lelaki tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melihat ke jam tangannya. Aku merasa kasihan. Jadi ketika sedang sibuk aku cuba untuk memeriksa lukanya, dan nampaknya cukup baik dan kering, tinggal membuka jahitan dan memasang balutan baru. Pekerjaan yang tidak terlalu sukar, sehingga atas persetujuan dokter, aku putuskan untuk melakukannya sendiri..

Sambil merawat lukanya, aku bertanya apakah dia punya janji lain hingga tampak terburu-buru. Lelaki tua itu menjawab tidak, dia hendak ke satu tempat untuk makan tengahari bersama istrinya, seperti yang dilakukannya sehari-hari. Dia menceritakan

bahwa istrinya sudah dirawat di sana sejak beberapa waktu dan istrinya mengidap penyakit Alzheimer.

Lalu kutanya apakah istrinya akan marah kalau dia datang terlambat. Dia menjawab bahwa istrinya sudah tidak lagi dapat mengenalinya sejak 5 tahun terakhir. Aku sangat terkejut dan berkata,? Dan pakcik masih pergi ke sana setiap hari walaupun istri pakcik tidak kenal lagi?? Dia tersenyum ketika tangannya menepuk tanganku sambil berkata, ?

Dia memang tidak mengenali saya, tapi saya masih mengenali dia, kan?

Aku terus menahan air mata sampai pakcik itu pergi, aku kagum. Cinta kasih seperti itulah yang aku mau dalam hidupku?

Cinta sesungguhnya tidak bersifat fisik atau romantis. Cinta sejati adalah menerima apa adanya yang terjadi saat ini, yang sudah terjadi, yang akan terjadi, dan yang tidak akan pernah terjadi.

Bagiku pengalaman ini menyampaikan satu pesan penting: Orang yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki segala sesuatu yang terbaik, mereka hanya berbuat yang terbaik dengan apa yang mereka miliki.

Hidup ini bukanlah hanya menghadapi badai, tapi bagaimana tetap menari di tengah hujan.?

Janganlah menjadi begitu masin..sehingga orang meludahmu..
Dan janganlah pula berlaku terlampau manis, sehingga mereka menelan dirimu begitu saja...

5 Alasan Mengapa Cinta Ditolak

Sobat pria, apakah Anda sudah pernah ditolak oleh wanita? Anda mungkin bertanya-tanya, setelah melakukan pedekate yang begitu intensif terhadap wanita itu, tapi saat Anda menyatakan cinta Anda pada dia, Anda malah ditolak. “Saya kurang apaaa?? Mengapa cinta saya ditolak??” begitulah Anda berseloroh sambil hati Anda teriris-iris sakit.
Pedekate dan penolakan adalah hal yang sudah satu paket. Hal itu tergantung dengan bagaiman cara Anda pedekate pada si dia. Dan masalah diterima atau ditolak nya cinta Anda oleh wanita yang Anda sukai itu bergantung pada Anda.
Hitman System kali ini akan membeberkan 5 rahasia alasan mengapa cinta Anda ditolak olehnya. Jika Anda mendengar alasan langsung dari wanita yang menolak Anda, seperti misalkan “aku gak bisa terima kamu.. kamu terlalu baik buat aku..” maka itu bukanlah alasan yang sebenarnya. Lalu apakah alasan sebenarnya cinta Anda ditolak?
  1. Anda terlalu baik untuknya. Wanita menyukai dan menginginkan sosok pria yang baik, tapi pada kenyataannya, mereka lebih tertarik pada pria yang menantang, agresif dan penuh dengan petualangan atau kita sebut dengan istilah bad guy. Anda takut dicap jelek oleh wanita yang Anda dekati, sehingga Anda bermain terlalu aman dengan menjadi pria yang terlalu baik. Itulah mengapa penolakan sering terjadi pada pria yang terlalu baik termasuk pada Anda. Jika dipersingkat, wanita yang Anda dekati tidak turn-on pada Anda.
  2. Alasan mengapa Anda ditolak oleh wanita yang Anda dekati adalah salah satunya karena Anda terlalu banyak mengumbar diri Anda. Mengumbar diri Anda dan mengumbar perhatian pada wanita adalah langkah awal menuju penolakan. Itulah mengapa cinta Anda ditolak dan Anda perlu belajar tentang cara mengumbar diri pada wanita.
  3. Anda terlalu terlihat mengejar si dia. Wanita memang suka dikejar. Tapi pertanyaannya adalah, berapa pria yang mengejar si dia? Jika banyak yang mengejar si dia, maka Anda harus bersaing. Mengejar wanita adalah salah satu tindakan yang menyebabkan cinta Anda ditolak oleh dia. Sebaiknya Anda perlu belajar cara mengejar wanita.
  4. Memposisikan diri Anda sebagai teman dekat adalah cara terbaik agar cinta Anda ditolak oleh si dia. Kenapa Anda harus membiasakan diri bermain menjadi “kakak-adik” dengan wanita yang Anda dekati? Jelas saja cinta Anda ditolak. Ingin tahu kenapa?
  5. Alsan terakhir mengapa cinta Anda ditolak oleh si dia adalah karena Anda terlalu berharap pada si dia. Rasa ngarep seperti inimenyebabkan Anda terlihat bodoh dan takut kehilangan wanita yang Anda dekati. Ini adalah alasan yang sering terjadi tentang mengapa cinta Anda ditolak oleh si dia. Anda perlu menggali lebih dalam tentang ngarep.
Sobat, itulah 5 alasan mengapa cinta Anda ditolak. Sekarang yang perlu Anda lakukan adalah memperbaiki diri Anda supaya tidak ditolak lagi.

Rabu, 07 September 2011

Makna Cinta Dan Keseetiaan

Cinta memang tidak pernah kering menjadi sumber inspirasi bagi kehidupan. Cinta terukir dalam berbagai wujud, bisa dalam bentuk kata-kata, tindakan, suatu benda simbolis, dan banyak ragam tanda lainnya. Para seniman tak bosan-bosannya memilih tema cinta dalam karya-karyanya. Orang-orang (terutama para penikmat seni) juga tak pernah jengah dengan karya bernuansa cinta. Kategori “cengeng atau bermutu” menjadi tak terlalu penting karena cinta menjadi suatu kebutuhan. Kadang kala orang butuh juga cinta berkharakter cengeng. Atau kadang orang juga memerlukan cinta yang tegar berjiwa heroik.
Cinta tidak berjalan sendiri. Ada kesetiaan. Kolaborasi cinta dan kesetiaan memperkaya khazanah kehidupan menjadi putih bersih beraura positif.
Jutaan bahkan mungkin miliaran karya seni dari abad ke abad menyenandungkan cinta dan kesetiaan. Cinta dan kesetiaan melahirkan hidup dan kehidupan baru.
Orang gembel – kaya, butuh cinta dan kesetiaan.
Orang kasar – romantis, juga mendambakan cinta-kesetiaan
Orang jahat (menurut penilaian umum) – dan kaum agamawan pun menginginkan cinta-kesetiaan. Manusia dan alam semesta menyenandungkan harmoni cinta dan kesetiaan secara universal – bebas dari SARA.
Cinta dan Kesetiaan – dua sisi dalam satu mata keping yang tidak terpisahkan. Cinta menjadi landasan sebuah Kesetiaan. Di dalam kesetiaan terkandung nilai cinta yang mempersatukan. Sulit membayangkan ada cinta berdiri sendiri tanpa disertai kesetiaan. Demikian pula sulit memahami, ada sebuah kesetiaan tanpa landasan cinta di dalamnya. Cinta tanpa kesetiaan adalah kosong. Dan kesetiaan tanpa didasari cinta adalah kepura-puraan. Dalam kesetiaan ada komitmen melayani tanpa pamrih tulus ikhlas apa adanya berlandaskan welas asih.
Cinta bermakna amat luas sebebas kesetiaan. Para pemikir barat klasik bahkan sampai memilah-milah arti dan perwujudan cinta ke dalam beberapa istilah. Ada eros untuk cinta bernuansa erotis dan romantis yang lebih bersifat fisik. Ada philia – sebuah cinta bernuansa kasih persaudaraan persahabatan. Dan ada pula agape untuk cinta yang bersifat spiritual – cinta kepada Sang Pencipta Mahakuasa dan sesama. Dan inilah level cinta tertinggi.
Masih ada banyak wujud cinta dan kesetiaan. Sebut saja, cinta kepada tanah air, cinta diri sendiri atau narsis dan ada storge cinta pada keluarga.
Ada apa dengan cinta dan kesetiaan?
Cinta dan Kesetiaan tak selalu dipahami secara utuh dewasa. Makna cinta dan kesetiaan yang harmonis indah, kerap diseret ke dalam pemahaman yang sempit gelap demi kepentingan pribadi.
Dunia sosial politik kekuasaan dengan para aktornya sering menyeret cinta dan kesetiaan yang suci tulus ke dunia yang sempit dangkal. Maka lahirlah kaum penjilat dan loyalis semu. Kelompok ini ada dan hidup di mana-mana – di sekitar kita hingga detik ini.
Banyak contoh di mana penguasa dan kaum loyalis suatu ideologi (parpol) yang sedang berkuasa menindas yang lemah mengabaikan makna cinta dan kesetiaan. Bahkan lebih jauh, telah membawa cinta dan kesetiaan ke dalam lahan tindak anarkhis kriminal. Penyelewengan terhadap makna cinta dan kesetiaan, akan melahirkan ketidakadilan bahkan pengkhianatan terhadap nilai inti kehidupan: welas asih yang harmonis.
Dulu di daratan Eropa, sejarah cinta mencatat Kaisar Claudius II telah membunuh energi cinta kaum muda. Para pemuda (pasangan muda) dilarang melakukan perkawinan. Sang Kaisar bertitah, kaum muda dengan energinya yang perkasa lebih tepat jadi tentara untuk kepentingan perang. Pasangan kaum muda dilarang keras melakukan perkawinan.
Seorang filsuf humanis yang juga rohaniwan, Valentine menentang kebijakan kaisar dengan menikahkan pasangan-pasangan muda yang sedang mabuk cinta. Valentine pun lalu dihukum mati karena dianggap melawan titah kaisar.
Di negeri ini banyak kelompok orang yang cepat “emosi” ngamuk bergaya barbar ketika ada kelompok lain yang berbeda, tidak sewarna, sepaham – sealiran – seideologi. Saling serang secara fisik dan saling menyakiti. Yang lebih mengerikan lagi jika membawa-bawa dan mengatasnamakan TUHAN – Sang Maha Kuasa – Pencipta – Maha Pengampun dan Sang Maha Welas Asih untuk merusak, menyakiti, dan membunuh sesama hanya karena berbeda. Memangnya, siapa manusia? (Siapa sih lu?). Di ruang yang lebih kecil, di kantor misalnya, orang yang tidak senada seirama ditekan, diadu domba, dan disingkirkan bahkan dibunuh kharakternya.
Negeri ini sejatinya bukan hanya sedang dilanda sakit kemiskinan dan kebodohan yang parah, tapi juga sedang mengidap sakit pengkhianatan cinta dan kesetiaan terhadap hidup harmonis dan welas asih.
Salam cinta dan kesetiaan

Minggu, 28 Agustus 2011

Makna Ramadhan Dan Idul Fitri

Jika kita melihat perjalanan hidup Nabi Muhammad sebagai sebuah kitab al Quran yang hidup, kita melihat bahwa apa yang dilakukan beliau itu seperti gambaran yang terdapat di dalam al Quran, yaitu segala sesuatunya penuh dengan perumpamaan. Perumpamaan ini jika kita mau dan tahu cara untuk dibimbing Allah, maka ternyata perjalanan hidup Nabi Muhammad tersebut mengandung makna yang mendalam sebagai pelajaran di balik simbol-simbol peristiwa yang merupakan perumpamaan.
Ketika Nabi Muhammad memerintahkan kita melakukan puasa di bulan Ramadhan, secara syariat kita tentu mengartikan bahwa kita wajib berpuasa di suatu bulan dalam kalender Hiriyah yang bernama bulan Ramadhan selama sebulan penuh sebagai sesuatu kewajiban. Namun ternyata, makna dari puasa atau shaum lebih dalam dari hanya sekedar berpuasa fisik sebagaimana telah dibahas sebelumnya. Makna dari Ramadhan ternyata lebih dalam dari hanya sekedar suatu bulan dalam kalender Hijriyah.
Ramadhan di dalam arti bahasa berarti membakar dan dimaksudkan sebagai membakar dosa. Menjadi pertanyaan, apa dosa spesifik yang dapat terbakar di bulan Ramadhan? Bagaimana cara membakar dosa di bulan Ramadhan?
Dosa yang dibakar di bulan Ramadhan adalah dosa kemusyrikan manusia, terutama kemusyrikan dalam hal kepemilikan dan kemusyrikan dalam hal aturan. Perkenankanlah saya membahas sedikit mengenai kedua jenis dosa ini, namun untuk lebih jelasnya, harap diperhatikan kembali bahasan tentang “Meraih Cahaya Allah” di pembahasan sebelumnya dalam mailing list ini.
Pertama, Ramadhan adalah proses membakar dosa musyrik kepemilikan dimana manusia merasa bahwa segala yang Allah telah berikan (sebenarnya bukan diberikan, lebih tepatnya dititipkan) kepadanya adalah miliknya sendiri, padahal itu sebenarnya milik Allah yang dititipkan kepadanya. Merasa memiliki ini adalah ciri-ciri dosa musyrik kepemilikan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 18:32-42, Dan berikanlah kepada mereka sebuah perumpamaan dua orang laki-laki, Kami jadikan bagi seorang di antara keduanya (yang kafir) dua buah kebun anggur dan kami kelilingi kedua kebun itu dengan pohon-pohon korma dan di antara kedua kebun itu Kami buatkan ladang. Kedua buah kebun itu menghasilkan buahnya, dan kebun itu tiada kurang buahnya sedikitpun, dan Kami alirkan sungai di celah-celah kedua kebun itu, dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” Dan dia memasuki kebunnya sedang dia zalim terhadap dirinya sendiri; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya, dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu.” Kawannya (yang mukmin) berkata kepadanya - sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna? Tetapi aku (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku. Dan mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Sekiranya kamu anggap aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan, maka mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin; atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi.” Dan harta kekayaannya dibinasakan; lalu ia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa yang ia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh bersama para-paranya dan dia berkata: “Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.”
Merasa memiliki sesuatu yang dititipkan Allah merupakan ciri-ciri sifat mempersekutukan Allah dalam hal kepemilikan karena Allah telah meng-klaim bahwa alam semesta dan isinya merupakan milik-Nya dan tidak boleh ada dua pemilik, sebagaimana disebutkan dalam Surat 42:53, (Yaitu) jalan Allah yang kepunyaan-Nya segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa kepada Allah-lah kembali semua urusan.
Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini kita diajarkan untuk membakar dosa musyrik kepemilikan dengan pembuktian bahwa semua ini bukan milik saya tetapi milik Allah yang dititipkan kepada saya. Pembuktian itu namanya shodaqoh yang berasal dari kata shiddiq yang berarti benar atau membenarkan.
Pembuktian bahwa kita melakukan proses Ramadhan atau pembakaran dosa musyrik kepemilikan bukanlah kepada Allah dan bukanlah lewat alat yang disebut puasa fisik, namun dengan pemberian kepada orang miskin pada bulan Ramadhan, sebagaimana disebutkan dalam Surat 9:60, Sesungguhnya sedekah-sedekah itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus sedekah, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
Jika kita selalu bersedekah dengan disertai kepahaman bahwa ini adalah suatu proses pembuktian atau pembenaran bahwa semua ini bukan milik saya tetapi merupakan titipan Allah dimana di dalamnya ada hak orang miskin, sebagaimana disebutkan dalam Surat 51:19, Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian dan Surat 70:24, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta), maka pada saat itulah kita berproses Ramadhan atau membakar dosa kemusyrikan dalam hal kepemilikan.
Kedua, Ramadhan adalah proses membakar dosa musyrik aturan dimana selama ini kita hidup diatur oleh bukan hukum Allah di dalam al Kitab (al Quran), maka dalam proses Ramadhan ini kita diajak untuk Idul Fitri yaitu kembali kepada fitrah aturan Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 30:30-32, Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.
Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya dengan tidak bermaksud menyalahkan atau menggurui, selama ini konsep umat Islam sedunia tentang Idul Fitri boleh dibilang salah kaprah. Idul Fitri selama ini diartikan sebagai kembali ke fitrah tanpa dosa bagaikan bayi yang baru lahir karena selama sebulan telah menunaikan ibadah puasa. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah ada manusia yang bebas dari dosa? Apakah bolah kita mengaku sebagai manusia yang fitrah seperti bayi baru lahir? Kalau kita merasa sebagai bayi, berarti tidak perlu taubat lagi?
Di dalam al Quran, Allah telah melarang kita untuk merasa suci atau memahami konsep Idul Fitri secara salah kaprah seperti ini. Kita tidak diperbolehkan merasa diri kita suci, sebagaimana disebutkan dalam Surat 53:32, (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.
Lebih lanjut, kembali kepada suci di dalam al Quran disebut sebagai zakat dan bukan fitri atau fitrah. Jadi secara bahasaquran, Idul Fitri tidak dimaknai sebagai kembali kepada suci tetapi kembali kepada fitrah. Fitrah itu sebenarnya tidak berarti suci tetapi berarti aturan.
Menurut konsep yang benar, meskipun mungkin akan berpotensi berlainan dengan kebanyakan konsep umat Islam di muka bumi ini, Idul Fitri itu selayaknya diartikan sebagai kembali kepada fitrah aturan Allah yang murni yaitu al Quran, aturan yang lurus, aturan yang tidak berubah dari sejak dahulu (ad-Dinul Qoyyimah), tidak menambah-nambah, tidak mengurangi, lurus dan kaffah. Itulah makna Idul Fitri yang sesungguhnya meskipun telah disebutkan dalam Surat Ar Ruum diatas, kebanyakan manusia tidak memahami makna Idul Fitri yang sesungguhnya.
Kebanyakan manusia memahami makna Idul Fitri sebagai kembali suci seperti bayi sehingga kita semua merasa bersih dari dosa pada saat Hari Raya Idul Fitri padahal merasa suci semacam ini dilarang oleh Allah dan konsepsi ini telah membuat kita setiap tahun melewati Idul Fitri namun semakin jauh dari fitrah Allah yaitu al Quran.
Manusia yang memaknai Idul Fitri sebagai kembali ke aturan Allah yang murni adalah manusia yang melewati proses Ramadhan dengan sebenarnya karena dia akan mengendalikan hawa nafsunya dengan aturan Allah dalam al Quran sehingga dia memiliki nafsul muthmainah atau nafsu yang terkendali. Inilah makna puasa yang sebenarnya. Inilah makna Ramadhan yaitu membakar dosa kemusyrikan secara aturan.
Manusia yang memahami makna Ramadhan yaitu membakar dosa kemusyrikan, maka dia akan menyadari bahwa setiap hari dalam hidupnya sebenarnya adalah proses Ramadhan tanpa henti yang tidak dihentikan oleh hari lebaran, namun dihentikan oleh dipertemukannya ajal.
Manusia yang berproses Ramadhan dengan mengikis dosa kemusyrikan secara kepemilikan dengan selalu bersedekah dan dosa kemusyrikan secara aturan dengan ber-Idul Fitri atau kembali ke al Quran, maka dialah yang mendapatkan karunia atau fadlul Allah dalam bentuk petunjuk dan ampunan yang diawali dengan proses Lailatul Qadar atau Nuzulul Quran.
Insya Allah kita akan membahas lanjutan topik Lailatul Qadar dan Nuzulul Quran dalam bahasan selanjutnya.